Kasus O Disoroti DPR

October 5th, 2012  Editorial-3

TANGERANG, SNOL Kasus pemenjaraan buruh PT XXX, O binti S mendapat perhatian khusus dari Komisi IX DPRRI. Bahkan DPR menilai kasus tersebut sebagai upaya perusahaan menjadikan O sebagai “Marsinah baru”.

Ketua Komisi IX Ribka Tjiptaning menyesalkan pihak PT XXX Tangerang yang memenjarakan salah satu karyawannya lantaran mengirimkan pesan singkat (SMS) berupa teror bom lantaran tidak diberikan izin cuti untuk merawat anaknya, sehingga anak tersebut meninggal.

“Nasib yang menimpa karyawan berinisial O tersebut seolah seperti nasib buruk yang menimpa seorang buruh pada masa Orde Baru, Marsinah. Itu tidak bisa dibiarkan, saya pribadi akan memberi catatan khusus pada kasus ini,” jelas Ribka, saat dihubungi Satelit News, Kamis (4/10) malam.

Menurut Ribka, bagaimanapun, penindasan terhadap seorang O harus dientaskan. Terlebih, penahanan O seakan buruh tersebut tidak dapat perlindungan hukum. “Besok (hari ini) saya akan datang langsung ke LP Wanita di Tangerang untuk menjenguk O. Jangan sampai kasus ini jadi seperti Marsinah,” jelas Ribka.

Ribka menegaskan, tidak seharusnya pihak perusahaan menunjukan sikap represif terhadap para buruh. Dia juga mengingatkan agar perusahaan senantiasa memperhatikan secara penuh kesejahteraan para buruh. “Apalagi saya dapatkan laporan, semua ini bermula pada sebuah SMS, dampak kekesalan O kepada perusahaan yang tidak memberikan hak cutinya. Sampai-sampai anaknya meninggal. Belum lagi, perusahaan memecat 163 orang buruh yang memperjuangkan O,” jelasnya.

Disinggung soal pendampingan hukum atas O, politisi PDI Perjuangan ini akan memberikannya. Bahkan, dia langusng akan meminta dan menyarankan kepada pihak pemerintah, yakni Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi untuk mengawasi proses ketenagakerjaan di lingkungan perusahaan.

Terpisah, Gabungan Serikat Buruh Indonesia (GSBI) juga akan melakukan aksi besar di kantor kepolisian dan juga LP Perempuan Tangerang, Jumat (5/10), hari ini. Hal ini mereka lakukan untuk memberikan dukungan moril kepada O yang sampai saat ini mendekam di dalam Lapas Wanita Tangerang. “Sudah kami pastikan, kami akan aksi besok (hari ini),” ucap Kokom, salah satu ketua serikat pekerja yang tergabung dalam GSBI, semalam.

Sebagaimana diketahui, O ditahan pihak kepolisian Polres Metro Tangerang, dan kini menjadi tahanan titipan di LP Wanita Tangerang. O ditangkap lantaran menyebarkan SMS teror bom kepada atasannya di PT XXX, melalui nomor telepon genggamnya sendiri, beberapa waktu lalu. (pane/deddy)

KASUS BURUH WANITA PENGIRIM SMS TEROR, SERIKAT MINTA PENANGGUHAN

Friday, 05 Oct 2012 | 15:41:57 WIB

TANGERANG, (KB).-

Sejumlah rekan O (29), buruh wanita tersangka pengirim pesan pendek (SMS) yang diduga berisi ancaman teror bom ditujukan kepada perusahaan tempatnya bekerja, PT XXX, pabrik sepatu di Kota Tangerang, mengaku menyesali perbuatannya. Dalam kaitan itu, serikat pekerja di perusahaan itu meminta pihak berwenang menangguhkan penahanan tersangka.
Demikian dikatakan Kokom, salah seorang dari sejumlah rekan yang menemui tersangka di Lapas Wanita Tangerang, Kamis (4/10).

“Alhamdulillah akhirnya kami bisa menemui O. Ia tampak lebih baik dibandingkan saat ia di sel polres yang tampak tegang, tapi O kelihatan lebih kurus sekarang. Ia sangat merasa bersalah kepada anaknya, karena disaat anaknya kritis, O tidak mendapat izin untuk merawatnya. Terlebih rekan kami ini harus tetap bekerja lantaran tidak mendapatkan izin cuti hingga anaknya meninggal. Inilah yang menjadi faktor pemicu meluncurnya SMS itu,” papar Kokom, yang juga Ketua Serikat Pekerja di PT XXX.

Kokom menyebutkan, sejak dititipkan di Lapas Wanita sejak Senin lalu, O memang tidak bisa ditemui pihak keluarga dan rekan-rekannya. Namun, lanjut dia, berkat kegigihan rekan-rekannya di Serikat Pekerja PT XXX dalam melakukan aksi dan negosiasi, O dapat juga dipertemukan walaupun masih menghuni ruang karantina.

” Kami akan segera menggelar aksi, meminta kepada pihak kepolisian memberikan penangguhan penahanan terhadap O. Walaupun demikian, fokus kai tetap pada satu tujuan, yaitu pembebasan O secara murni,” tutur Kokom kembali.

Sebelumnya, O ditangkap aparat Kepolisian Polres Metropolitan Tangerang pada 29 September lalu di rumahnya. O dituduh telah menyebar SMS berbunyi , hati-hati yang didalam, malam ini sedang dirakit bom besok akan diledakkan. Saat ini kasus O masih ditangani pihak kepolisian.

Hingga kini, menurut Kokom, perjuangan kaum buruh PT XXX untuk kebebasan O didukung sejumlah tokoh. Kokom berharap dengan dukungan banyak pihak, perjuangan untuk kasus O dan kasus-kasus ketenagakerjaan di PT XXX dapat terselesaikan. ” Kami sudah berkoordinasi dengan beberapa tokoh seperti Budiman Sujadmiko, Dita Indah, Ciptaning, Usman Hamid dan Komnas HAM,”

Aksi teror bom melalui SMS yang dikirimkan O Binti S kepada beberapa karyawan PT XXX diyakini rekan-rekannya bukannya ancaman.  Pasalnya, O tidak menyembunyikan identitasnya dalam mengirim SMS, melainkan menggunakan handphone miliknya sendiri.
“Memang O yang kirim SMS itu. Hanya saja kalau dia mau bersungguh-sungguh berniat jahat, untuk apa dia menggunakan handphone miliknya sendiri dengan nomor yang dikenal kawan-kawannya sendiri,”ujar Saban, salah seorang rekan O yang ditemui di lapas, kemarin.
Saban pun meyakini apa yang dilakukan O merupakan dampak dari kekecewaan seorang buruh atas perlakuan pihak perusahaan.

“Bukan hanya O yang kecewa, kami buruh perusahaan juga menelan kekecewaan yang sama. Ya mungkin emosi O dan luka lamanya di tahun 2010 yang menyebabkan ia nekad seperti ini,” tuturnya.

Walaupun O sudah mengakui mengirimkan SMS tersebut, Saban bersama rekan buruh lainnya akan tetap membantu memperjuangkan nasib tersangka untuk kembali menghirup udara kebebasan. Sebab, kata dia, apa yang dilakukan O bukanlah kesengajaan hanya karena emosional semata dan kecewa kepada perusahaan.(H-36)***

Komentar saya :

Setelah saya membaca dan memahami permasalahan yang ada dari kasus diatas, bisa dikatakan bahwa PT XXX selaku perusahaan tidak mempunyai etika bisnis yang semestinya. Seharusnya pihak perusahaan bisa lebih memperhatikan kesejahteraan serta kondisi para pegawainya. Apabila keadaan nya memang sedang mendesak hendaknya perusahaan memberikan kompensasi yang diminta oleh karyawan. Tapi dalam hal ini pihak perusahaan juga tidak bisa sepenuhnya dipersalahkan, karena sebagai pihak yang kuat perusahaan juga mempunyai hak dan peraturan serta undang-undang yang wajib dipatuhi oleh seluruh karyawannya, yang lebih disayangkan dari terjadinya kasus ini adalah hilangnya nyawa seseorang dalam kasus ini adalah anak dari saudari O. Saran yang bisa saya sampaikan dari terjadinya kasus ini adalah, harus adanya komunikasi yang baik antara pihak perusahaan dengan para karyawannya.

Sumber :

http://satelitnews.co.id/kasus-omih-disoroti-dpr/

http://kabar-banten.com/news/detail/7017