TOPIK DISKUSI :

  1. Pancasila pada hakekatnya adalah sebagai pandangan hidup bangsa dan dasar negara. Mengapa pancasila dianggap sakti hingga harus dilestarikan ?
  2. Pancasila adalah ideologi yang terbuka. Apakah arti kata keterbukaan ideologi pancasila itu, apa faktor-faktor yang mendorong keterbukaannya, dan apakah tidak mengandung bahaya bagi kelestariannya, serta apa batas-batas keterbukaan ideologi pancasila ?

 

Bangsa Indonesia mulai sadar diri betapa penting arti Pancasila untuk mendukung existensi negara-bangsa, sehingga Pancasila mulai diusung lagi ke permukaan, menjadi wacana di berbagai forum seminar dan diskusi. Bahkan kalau sejak reformasi tanggal 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila dilupakan, mulai tahun 2005, tanggal 1 Oktober diperingati lagi sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Oleh karena itu dipandang perlu untuk mendudukkan pengertian “Pancasila Sakti” secara proporsional, supaya tidak menimbulkan kesalah pahaman.

 

Sakti memiliki makna tidak terkalahkan, tidak dapat ditaklukkan. Sakti biasanya menjadi predikat bagi seseorang yang memiliki suatu kekuatan tertentu, baik fisik maupun non fisik, sehingga tidak akan terkena segala macam senjata baik senjata tajam maupun senjata yang tidak nampak. Dalam bahasa Jawa terdapat ungkapan; “ Ora tedas tapak paluning pande, sisaning gurendo,” menggambarkan seorang yang tidak akan terlukai oleh senjata apapun. Sakti merupakan kekuatan yang bersifat kemampuan bertahan diri dari segala macam ancaman dan gangguan.

Sangat erat dengan istilah sakti adalah “ampuh,” yang biasanya dipergunakan untuk memberikan gambaran mengenai kehebatan suatu senjata. Senjata yang ampuh adalah senjata yang memiliki daya hancur yang luar biasa, sehingga tidak ada satu obyekpun yang mampu untuk menahannya. Sebagai contoh keris Empu Gandring adalah sangat ampuh, tiada pandang bulu siapapun yang terkena oleh keris tersebut pasti lebur. Sebaliknya Tunggulametung yang pertama terkena keris tersebut kurang sakti sehingga tidak mampu menahan ke-ampuhan keris Empu Gandring. Kalau istilah sakti memiliki konotasi defensif, ampuh lebih bermakna ofensif atau proaktif, meskipun batas ini tidak kaku, bahkan dapat saling berganti.

 

Istilah sakti sering diberi padanan tangguh, perkasa dan sebagainya, merupakan istilah-istilah yang bombastis, lebih untuk konsumpsi politis, untuk maksud dan tujuan politik tertentu, oleh karena itu istilah tersebut tidak digunakan dalam uraian ini, dan lebih dititik beratkan pada ketepatan Pancasila bagi bangsa Indonesia dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

 

 

Kesaktian Pancasila itu bukan pepesan kosong. Kesaktian pancasila itu berarti bahwa lima sila yang terkandung dalam Pancasila telah terbukti mampu melindungi keselamatan jiwa raga dan harkat masyarakat, bangsa dan Negara pada tragedi 30 September 1965. Kini, Pancasila itu masih sakti. Bila masyarakat mau betul-betul menghayati maknanya dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari bermasyarakat. Tidak akan ada pertikaian, tawuran massal, ataupun tragedi perpecahan lainnya seperti yang terjadi sekarang ini.

 

Setidaknya itulah yang ditekankan pidato menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi, yang dibacakan Wako Ismet Amzis saat menjadi inspektur upacara dalam Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Lapangan Wirabraja 0304 Agam pada Jum’at (01/10). Meskipun terik matahari, lagu Garuda Pancasila yang dimainkan tetap terdengar lantang dan menyentil kembali kesadaran peserta upacara tentang eksistensi dan makna Pancasila.
Wako Ismet, di akhir upacara mengingatkan “Pancasila itu falsafah hidup berbangsa, bukan sekedar hafalan yang dibaca setiap hari Senin” ujarnya. Menurut Ismet, masyarakat perlu kembali ‘melihat’ ke Pancasila. Masyarakat perlu kembali ‘kepada Tuhan Yang Maha Esa’, Memunculkan kembali ‘rasa kemanusiaan’ di antara sesama, apalagi di tengah banyaknya bencana. Kemudian, masyarakat perlu saling mengikat silaturrahmi dan persaudaraan dalam ‘persatuan’ karena bersatu adalah kunci keberhasilan dan kemajuan. Serta masyarakat Bukittinggi perlu memahami esensi berdemokrasi di setiap level permasalahan. Dimana segala sesuatu perlu dimusyawarah-mufakatkan. Terakhir, masyarakat diminta sama-sama mengerahkan tenaga, turut berpartisipasi untuk meuwujudkan kesejahteraan bersama, mengentaskan warga dari kemiskinan dan himpitan hidup sehingga tercipta keadilan sosial bagi seluruh warga. “Itulah artinya, Pancasila itu Sakti.” Tutup Ismet.

 

 

Jadi, Pancasila yang dianggap sakti itu harus dilestarikan karena Sakti itu sebagai symbol dari kekuatan sebuah nilai Pancasila, dimana Pancasila merupakan cirri khas yang membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa lainnya. Selain itu kesaktian Pancasila mampu melindungi segenap jiwa masyarakat Indonesia apabila kita sebagai masyarakat mampu menghayati makna dan mengamalkan Pancasila dengan baik.

Pancasila itu sakti dapat di optimalisasikan apabila kita seluruh rakyat dan warga negara Indonesia mampu mewujudkan negara Indonesia yang makmur dan sejahtera kearah / tingkat yang lebih tinggi.

 

Yang dimaksud dengan Pancasila sebagai ideologi terbuka adalah Pancasila merupakan ideologi yang mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman tanpa pengubahan nilai dasarnya. Ini bukan berarti bahwa nilai dasar Pancasila dapat diubah dengan nilai dasar yang lain yang sama artinya dengan meniadakan Pancasila atau meniadakan identitas/jati diri bangsa Indonesia (AL Marsudi, 2000:62). Pancasila sebagai ideologi terbuka mengandung makna bahwa nilai-nilai dasar Pancasila itu dapat dikembangkan sesuai dengan dinamika kehidupan bangsa Indonesia dan tuntutan perkembangan zaman secara kreatif dengan memperhatikan tingkat kebutuhan dan perkembangan masyarakat Indonesia sendiri.

Sebagai Ideologi terbuka, Pancasila memberikan orientasi ke depan, mengharuskan bangsanya untuk selalu menyadari situasi kehidupan yang sedang dan akan dihadapinya, terutama menghadapi globalisasi dan era keterbukaan dunia dalam segala bidang. Ideologi Pancasila menghendaki agar bangsa Indonesia tetap bertahan dalam jiwa dan budaya bangsa Indonesia dalam ikatan Negara kesatuan Republik Indonesia.

Gagasan mengenai pancasila sebagai ideologi terbuka mulai berkembang sejak tahun 1985. tetapi semangatnya sudah tumbuh sejak Pancasila itu sendiri ditetapkan sebagai dasar Negara (Emran, 1994:38). Sebagai idedologi, Pancasila menjadi edoman dan acuan kita dalam menjalankan aktivitas di segala bidang, sehingga sifatnya haurs terbuka, luwes dan fleksibel dan tidak tertutup, kaku yang akan membuatnya ketinggalan jaman. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Alfian, Pancasila telah memenuhi syarat sebagai ideologi terbuka. Hal ini dibuktikan dari adanya sifat-sifat yang melekat pada Pancasila maupun kekuatan yang terkandung di dalamnya, yaitu pemenuhan persyaratan kualitas tiga dimensi.

Keterbukaan ideologi Pancasila terutama ditujukan dalam penerapannya yang berbentuk pola pikir yang dinamis dan konseptual dalam dunia modern. Kita mengenal ada tiga tingkat nilai, yaitu nilai dasar yang tidak berubah, nilai instrumental sebagai sarana mewujudkan nilai dasar.yang dapat berubah sesuai keadaan dan nilai praktis berupa pelaksanaan secara nyata yang sesungguhnya. Nilai-nilai Pancasila dijabarkan dalam norma – norma dasar Pancasila yang terkandung dan tercermin dalam Pembukaan UUD 1945. Nilai atau norma dasar yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 ini tidak boleh berubah atau diubah. Karena itu adalah pilihan dan hasil konsensus bangsa yang disebut kaidah pokok dasar negara yang fundamental (Staatsfundamentealnorm). Perwujudan atau pelaksanaan nilai-nilai instrumental dan nilai-nilai praktis harus tetap mengandung jiwa dan semangat yang sama dengan nilai dasarnya.
Kebenaran pola pikir seperti yang terurai di atas adalah sesuai dengan ideologi yang memiliki tiga dimensi penting yaitu Dimensi Realitas, Dimensi Idealisme dan Dimensi Fleksibilitas.

 

Pancasila dilihat dari sifat- sifat dasarnya, dapat dikatakan sebagai ideologi terbuka. Pancasila Sebagai ideologi terbuka memiliki dimensi- dimensi idealitas, normatif dan realitas. Rumusan- rumusan pancasila sebagai ideologi terbuka bersifat umum, universal, sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945.

Bukti Pancasila adalah ideologi terbuka :
-Pancasila memiliki pandangan hidup dan tujuan serta cita – cita masyarakat Indonesia
-Tekad untuk mengembangkan kekreatifitasan dan dinamis untuk mencapai tujuan nasional
-Pengalaman sejarah bangsa Indonesia
-Terjadi atas dasar keinginan bangsa ( masyarakat ) Indonesia sendiri tanpa campur tangan atau paksaan dari sekelompok orang
– Isinya tidak operasional
– Menginspirasikan kepada masyarakat agar bertanggung jawab sesuai dengan nilai – nilai Pancasila
– Menghargai pluralitas, sehingga dapat diterima oleh semua masyarakat yang memiliki latar belakang dan budaya yang berbeda.

FAKTOR PENDORONG KETERBUKAAN IDEOLOGI PANCASILA
Faktor yang mendorong pemikiran mengenai keterbukaan ideologi Pancasila adalah sebagai berikut :
a.Kenyataan dalam proses pembangunan nasional dan dinamika masyarakat yang berkembang secara cepat.
b.Kenyataan menunjukkan, bahwa bangkrutnya ideologi yang tertutup dan beku dikarenakan cenderung meredupkan perkembangan dirinya.
c.Pengalaman sejarah politik kita di masa lampau.
d.Tekad untuk memperkokoh kesadaran akan nilai-nilai dasar Pancasila yang bersifat abadi dan hasrat mengembangkan secara kreatif dan dinamis dalam rangka mencapai tujuan nasional.

Adakah Kritik Terhadap Pancasila Sebagai Sebuah Ideologi?
Dalam perjalanannya, Pancasila memang kerap kali mendapatkan kritik dari masyarakat dengan melayangkan tuntutan-tuntutan yang bersifat memperdebatkan ‘keabsahan’ Pancasila sebagai sebuah ideologi Indonesia. Seperti munculnya gagasan diberlakukannya federalisme dalam sistem kenegaraan Indonesia, fenomena munculnya kembali partai-partai politik, organisasi massa dan organisasi kepemudaan yang memakai asas di luar Pancasila dalam menjalankan aktivitas administrasi dan organisasinya. Berbagai bentuk penyelewengan atas Pancasila tidak harus dimaknai sebagai sebuah alasan untuk menggantikan ideologi suatu negara. Penyelewengan adalah bukti ketidakseriusan pengelola negara dalam menjalankan Pancasila secara murni dan konsekuen. Itulah sebabnya, agar berbagai penyelewengan atas Pancasila dapat diminimalisir, maka sudah saatnya Pancasila didudukkan kembali menjadi ideologi terbuka yang harus terus menerus disempurnakan sehingga pada akhirnya selalu ‘up to date’ untuk menjawab persoalan yang timbul di negara Indonesia.

 

Jadi, keterbukaan ideologi terhadap Pancasila bukan lah suatu hal yang perlu ditakutkan, justru keterbukaan itu yang akan membuat Pancasila lebih dikenal dan dapat di optimalisasikan pengamalannya. Tetapi harus dalam batas-batas kewajaran, dimana apabila idologi tersebut sudah tidak sejalan dengan kaidah, etika asli Pancasila maka kita harus membenarkannya.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

  1. http://tugasgw.wordpress.com/2009/07/11/pancasila-sebagai-ideologi-terbuka/

 

  1. http://khazanna032.wordpress.com/2009/07/16/pancasila-sebagai-ideologi-terbuka/

 

  1. http://www.g-excess.com/post/pancasila-sebagai-ideologi-terbuka.html

 

  1. http://www.elsifm.com/v2/?p=312