MAAFKAN AKU MA…………

Matahari terlihat begitu manjanya menampakan diri di pagi hari yang dingin, begitu pula dengan burung-burung yang tidak lagi berkicauan, dedaunan dan pepohonan yang dibahasi embun terlihat layu dan tertutup kabut yang dingin. Apakah mungkin ala mini enggan memperlihatkan keindahan mereka terhadapa diriku ???

Dengan pakaian serba hitam aku terduduk lesu di sebuah pusaran nisan kayu dengan ukiran yang indah. Ku pandangi dengan raut wajah penuh penyesalan.

Ma…..andai saja waktu dapat ku putar, peristiwa itu dapay ku cegah.

Pagi itu seperti biasa mama membangunkan ku sebagaimana kasih seorang ibu, tapi dengan malas dan rasa jengkel aku pun terpaksa untuk bangun. Dia menyiapkan peralatan sekolah untukku, dia mencoba untuk menjadi seorang ibu yang baik terhadap ku. Tetapi semua hal yang ia lakukan dimataku hanya lah cara yang semata-mata ia lakukan untuk menarik perhatian ku agar bersimpatik padanya dan hal itu mebuat ku semakin tidak menyukainya.

Wanita itu adalah ibu tiriku yang dinikahi oleh papa ku setahun yang lalu. Mama kandungku meninggal karena penyakit kankernya. Ketika itu usiaku genap 16 tahun.

“Bella, ayo nak papa sudah menunggu di ruang makan” kata kata itu selalu keluar dari mulutnya jika aku terlalu lama mandi.

Aku duduk di meja makan ditemani dengan dia dan papa, seperti biasa aku selalu memperlihatkan kejutekan ku kepada dia tapi anehnya dia gak pernah kelihatan kesal atau marah. Selama dia jadi bagian dalam hidupku aku belum pernah memanggil atau memperlakukan dia sebagai seorang anak terhadap ibunya. Apalagi dengan akan hadirnya seorang anggota keluarga baru di keluarga ku. Ibu tiriku sedang mengandung calon adik tiri laki-laki untukku yang usianya sudah menginjak 8 bulan.

“bella, tolong nanti antarkan mama mu ke dokter kandungan ya, soalnya papa ada meeting jadi papa gak bisa nganter”, papa bersuara di pagi itu.

“apa ??? mama ?? mamaku sudah meninggal dan perempuan ini penyebabnya”, aku berteriak sambil menunjuk wajahnya.

Kulihat butiran-butiran airmata mengelinang dipipi nya. Tapi itu tak membuat ku merasa iba.

Lalu plak….sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan ku.

“kamu kurang ajar sekali”, maki papa.

Dengan perasaan yang kacau balau ku raih tas dan meninggalkan rumah. Dalam fikiranku aku harus pergi dari meninggalkan rumah. Saat itu aku berfikir ingin pergi dari kehidupan yang menyebalkan ini. Aku tidak pergi ke sekolah melainkan ke sebuah taman kota yang jaraknya cukup jauh dari sekolah ku.

Singkat cerita sudah hamper seminggu aku menggelandang di jalanan, jadi pengamen, pengemis, tukang semir semuanya kulakukan demi tetap mepertahankan hidup ku di jalanan. Aku tidak tahu apakah orang tua ku mencari ku atau tidak.

Dengan kaki yang lemas dan perut menahan lapar aku berteduh di sebuah pos ronda, kebetulan saat itu hujan sedang turun. Aku menunggu dan terus menunggu ujungnya waktu. Disaat yang sama papa ku tidak henti-hentinya mencari ku, hujan deras, angina bahkan petir yang menggelegar tidak menyurutkan semangat mereka untuk mencari ku malam itu. Mama tiri ku pun memaksa untuk ikut walau sudah dilarang keras oleh papa karena takut membahayakan kandungannya. Tapi dia bersikeras untuk ikut karena dia merasa dia lah yang menjadi penyebab hilangnya aku.

Aku masih termenung disebuah pos ronda, tiba-tiba dua orang pemuda yang tidak ku kenal menghampiriku. Mulanya mereka mengajak ku untuk pergi dari situ tanpa ku mengerti maksud mereka apa. Aku pun menolaknya lalu dengan mata merah mereka mencengkram tangan ku, aku tidak tinggal diam aku meberontak tapi apalah daya ku sebagai seorang perempuan, namun aku masih memberontak dan berteriak minta tolong. Untungnya lewat lah sebuah mobil Xenia bernopol B 3 LLA, tetapi seorang pemuda tersebut menghujamkan pisau kearah perut ku, dengan bersimbah darah aku tidak sadarkan diri.

Ketika mata ku terbuka aku sudah ada di sebuah kamar rumah sakit, kulihat sekeliling ku berwarna putih. Fikiranku saat itu apakah aku sudah mati, tapi tangan halus papa terasa mengelus rambutku menyadrakan aku bahwa aku masih hidup. Aku menangis sejadi-jadinya dan berulang kali meminta maaf dan bisikan papa memaafkan ku membuatku sedikit tenang.

“Pa…mama mana”, Tanya ku.

Papa hanya diam saja dan menagis.

“Pa,,,,,mama mana”, ku ulangi kembali pertanyaanku.

“Mama mu sudah tenang di sana saying,” isak papa.

“Maksud papa apa ?” Tanya ku bergetar.

“yaah,,mama mu sudah pergi meninggalkan kita,” jawab papa.

“pa…itu bohong kan, itu gak bener kan, aku saying mama,”

Aku menangis dalam pelukan papa. Lalu datang seorang suster dengan membawa seorang bayi laki-laki mungil yang montok.

“Ini adikmu, anak papa dan mama,”

Diperlihatkan kepadaku, aku menangis dan mencium saying adik kecil ku.

“mama mu terlalu banyak mengeluarkan darah setelah melahirkan” ujar papa.

“bukannya selama ini mama sehat-sehat saja pa..??”

“ ya,, dia memang sehat tetapi seminggu terakhit tenaga nya terkuras untuk mencarimu, nak”

Aku menyesal, aku menangis, aku marah pada diriku sendiri.

Seminggu kemudian aku pulang kerumah dan meminta papa mengantar ku ku makam mama.

“ma…maafkan aku ma…” untuk pertama dan terakhir kalinya aku ucapkan permintaan maaf. Lalu papa memberikan secarik kertas, kubuka dan kubaca.

Untuk:

Anakku Bella

Yang kusayangi

Peluk dan cium mama menyertai mu sayang..

Bella.,,,mama tau selama ini mama bukan ibu yang baik untuk mu. Mama tidak bisa menggantikan posisis ibu mu dihati mu. Tapi mama sudah berusaha sayang, mama sadar mama hanyalah ibu tiri yang kamu fakir akan selalu jahat. Tapi mama gak akan sedih dan marah sama kamu. Jaga diri baik-baik yaa..jaga papa dan juga adik mu,

I love you sayang.

Salam sayang

MAMA

Air mata mengalir deras di pipiku dan penyesalan begitu sakitnya dihatiku. Aku janji ma,,aku akan menjaga adikku dan akan selalu aku sayangi.

“Tuhan,,,mama orang yang baik semoga engkau menerima dan menempatkan beliau di tempat yang layak” doa ku dalam hati.

Aku begitu sakit dan hati ku begitu perih, aku berjanji akan berbuat lebih baik lagi.

Aku kehilangan mama untuk kedua kalinya.

“ma,,,,,maafkan aku”

Cerita ini aku dedikasikan untuk keluarga kecilku.

Ayah, mama, dan adik perempuanku. Semoga yang membaca cerita ku ini bisa terinspirasi, semoga bisa ada hikmah yang dapat kita petik. Walau pun cerita cerita ibu tiri itu jahat, tapi tidak semua ibu tiri itu jahat loh.

Pesan yang ingin saya sampaikan Janganlah kamu cepat berpransangka buruk terhadap orang lain.

Mohon maaf apabila ada pihak-pihak yang tersinggung tapi saya menukis cerita ini bukan dengan maksud apa-apa kecuali menyalurkan hobi menulis saya.

TRIMS

PENULIS